Kamis, 24 Maret 2016

CERPEN PETANI



AKU  ADALAH KELUARGA SEORANG PETANI

Suara kumandang adzan subuh bergema ke seluruh penjuru desa, itu pertanda malam telah berganti pagi, rasanya aku enggan beranjak dari peraduan tapi demi kewajibanku kepada Sang Pencipta akhirnya aku bersegera mengambil air wudu dan segera pula bergegas melaksanakan sholat subuh.

Pagi ini aku awali hari dengan berangkat ke kebun kalo bahasa desa saya neng tegal hhh perkebunan di desaku terutama cengkeh dan kedua kakau, kelapa dan masih banyak lagi seperti biasa ditemani bapak, bapak aku selain petani juga bekerja di bangunan, oh ya.. kalau ibu aku sedang bekerja sebagai tkw di singapure. Aku adalah seorang petani atau pekebun, selain bertani kami juga beternak, tidak hanya sapi dan kambing, kami juga beternak ayam,dan ikan, kalau ikan sih cuman untuk lauk sendiri hhhh. semua kami lakukan untuk mencukupi perekonomian kami sekeluarga, namaku Arwan tapi biasa dipanggil teman-teman ku dengan nama kancel meskipun nama itu lucu dan tidak sopan karena kancel kan nama binatang tapi bagiku itu biasa aja. umur aku 20 tahun, aku anak ketiga dari dua saudara, kakak pertamaku bernama andik dia ikut nenekku dan tidak tinggal bersamaku dan kakak keduaku bernama kosman dia suadah menikah dan telah dikaruniai 1 orang dari istrinya bernama riris dan dia juga tidak tinggal bersamaku. Tapi rumahku bersampingan dengan rumah embahku.

Aku sangat bangga dengan kedua orang tuaku mereka bekerja keras demi mencukupi kebutuhan sehari-hari dan pendidikan kami, hingga aku sudah lulus sekolah, dan baru lulus pada tahun 2014. Aku tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena sehabis lulus sekolah aku langsung bekerja disalah satu perusahaan di bidang garment di sragen Jawa Tengah. Dan kira-kira sudah sekitar 10 bulan aku keluar karena aku sakit. Dan sekarang beginilah aku lebih memilih menjadi seorang petani. Sempat aku mengikuti diklat pertanian di Asrama Haji kota Madiun untuk mewakili desaku. Disana sangat banyak sekali pemuda-pemudi yang mewakili semua desa se Kabupaten Madiun. Disana kami diajarai semua caranya di bidang bertani, berkebun, perikanan, peternakan hingga menjadi petani / pengusaha yang sukses. Dan setah selesai disana kami dianjurkan untuk ikut magang ke jepang dengan dibiayai gratis dari pemerintah. Dan saya sempat ingin ikut tapi akhirnya saya tidak jadi. Karena saya lebih memilih menjadi petani di desaku saja hingga aku sukses.

Dan Kakak pertamaku andik dia bekerja sebagai petugas di tempat pariwisata di di desaku yang cukup ramai selain bekerja disana dia juga bekerja sambilan mengikuti grup dangdut untuk tampil di tempat-tempat hajatan. Dan dia juga seorang petani.
Kalau kakak keduaku dia seorang petani dan pekebun dan bekerja sambilan mengikuti sound sistem di tempat tetanggaku, aku bangga sekali bisa membantu orang tuaku.
Orang tuaku mendidik ku menjadi anak yang sabar, berjiwa besar, pantang menyerah, serta ikhlas menerima apa yang Allah kasih, maka dari itu sejak kecil aku tak pernah malu dengan kehidupan kami yang sederhana, dulu ketika masih Sekolah Dasar, aku ke sekolah tanpa alas kaki, waktu itu bapak tak mampu membelikan sepatu, tapi toh aku tetap ke sekolah tanpa rasa malu, untungnya tidak hanya aku yang bersekolah tanpa sepatu, banyak teman-temanku yang nasibnya sama seperti aku dan untungnya lagi pihak sekolah maklum itu.dan semua ada hikmahnya, ketika musim hujan datang aku tak pernah susah jalan di pematang sawah yang licin. Aku masih ingat juga ketika Sekolah Menengah Pertama teman-temanku mulai memakai sepeda, karena jarak sekolahan cukup jauh. Aku yang tak memiliki sepeda sendiri harus jalan kaki ketika ke sekolah, dan bisa di bayangkan aku sering datang terlambat, lama-kelamaan bapak kasihan kepadaku, akhirnya bapak menjual kambing dan membelikan sepeda, sebenarnya kambing itu tabungan bapak untuk biaya nanti kelak bila aku masuk SMA.

Aku tak pernah lupa kenangan waktu kecil, karena dari situlah aku bisa bercermin dan aku tak akan melupakan jasa kedua orang tuaku yang telah berkorban banyak demi aku dan kakak-kakakku,
aku bahkan tak pernah malu menjadi petani dan mempunyai orang tua seorang petani. Aku justru merasa bangga karena kalau tak ada kami dan petani-petani lainnya mungkin semua orang akan kelaparan karena tak ada yang menanam padi secara tidak langsung kami juga termasuk pahlawan hhhhhhhhhhhhh.



Bapak dan ibu juga jadi pahlawan bagi aku, karena perjuangan beliaulah aku bisa memperoleh pendidikan yang layak. Bapak dan ibuku menginginkan kelak kehidupan anak-anaknya jauh lebih baik dari kehidupannya sekarang, meskipun bapak dan ibuku hanya tamatan Sekolah Dasar tapi 
beliau ingin anak-anaknya bersekolah setinggi-tingginya sampai mencapai gelar sarjana. Aku harus mewujudkan cita-cita beliau dengan cara rajin belajar, supaya cita-cita aku menjadi sarjana pertanian terwujud. Aku ingin membangun desa, aku ingin kehidupan perekonomian para petani disini jauh lebih baik, aku ingin kehidupan kami semua lebih sejahtera, aku berjanji akan mewujudkannya kelak.


                                                                                      Madiun, 25 Maret 2016
                                                                                      penulis: Khoirul Arwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar